Obat adalah “Racun”

Suatu hari di tahun 2009, penulis menghadiri kelas Imunologi di salah satu universitas di Australia. Hari itu setiap kelompok mahasiswa diminta untuk mempresentasikan kasus klinis yang berkaitan dengan imunologi. Ada satu hal yang berkesan, ketika sekelompok mahasiswa China selesai mempresentasikan makalahnya.

Saat sesi diskusi, dosen bertanya tentang traditional chinese medicine (TCM), rasionalisasi dan prakteknya. Semula para mahasiwa China tersebut enggan menjawab karena diskusi ini tidak terkait dengan makalah mereka. Tapi melihat sang dosen dan teman-temannya antusias menunggu penjelasannya, akhirnya dia berkata singkat: if you know what is in our traditional medicine, you wouldn’t dare to take it* katanya sambil tersenyum.

Dosen kami berusaha bertanya lebih jauh tentang hal ini dan sang mahasiswa menjawab: we fight diseases with poisons. Scorpion, snake, etc; you name it, we have all of it**. Selain menggunakan racun binatang, sekitar tiga lusin zat yang berasal dari manusia pun dipercaya memiliki khasiat tertentu; antara lain rambut, kuku, plasenta, urin, tulang, daging, darah, darah menstruasi, cairan semen, penis dan rambut kemaluan. Setelah itu, kami semua pun memaklumi keengganannya bercerita lebih jauh tentang TCM.

Ilmu pengobatan China merupakan salah satu ilmu kedokteran yang paling tua di dunia, telah dikenal beberapa abad sebelum masehi. Konsep “mengobati dengan racun” pun diadaptasi oleh dunia kedokteran modern dan farmasi, yang diilustrasikan dalam bentuk gelas yang dililit ular. Silakan kunjungi apotik terdekat jika Anda penasaran ingin melihat lambang ini.

Ibarat dua sisi mata pedang, obat dapat membawa kebaikan maupun kerusakan. Seringkali masyarakat awam terjebak hanya melihat sisi negatif dari suatu obat, yaitu efek sampingnya. Padahal, efek samping yang dicantumkan dalam suatu kemasan obat bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membuat penggunanya waspada. Jika timbul efek samping, pengguna obat bisa segera mengenali dan segera mencari pertolongan ke dokter.

Sebelum dipasarkan, obat melewati serangkaian proses uji laboratorium dan uji klinis yang panjang. Untuk apa? Untuk memastikan bahwa obat dapat dikonsumsi secara aman dan mempunyai khasiat pengobatan. Jika suatu obat dinyatakan tidak aman di tahap uji laboratorium yang melibatkan binatang coba, maka obat tersebut tidak akan masuk ke tahap uji klinis yang melibatkan manusia.

Jadi, dalam memproduksi obat, aspek keamanan dinomorsatukan, baru selanjutnya dilihat khasiat obat tersebut dalam menanggulangi penyakit tertentu. Ingat ya, hanya penyakit tertentu. Prinsip kerja obat adalah seperti kunci dan gembok, molekul obat harus tepat berikatan dengan reseptor tertentu supaya bisa menimbulkan efek.

Lantas mengapa obat-obat kimia mempunyai banyak efek samping? Tentu saja, semakin banyak tes yang dilakukan, maka semakin banyak informasi yang kita dapatkan, baik informasi yang baik maupun informasi yang buruk. Bahkan, jika suatu obat yang telah dipasarkan pada akhirnya diketahui berbahaya, maka obat tersebut akan segera ditarik dari peredaran. Jadi, tak perlu takut menggunakan obat “kimia”, apalagi jika obat tersebut diresepkan dokter. Bahkan kita harus waspada jika ada “obat alami” yang diklaim dapat menyembuhkan berbagai penyakit tanpa efek samping.

Ibarat belajar berenang, kita tentu lebih memilih berenang di kolam yang kita ketahui kedalamannya daripada langsung menceburkan diri ke laut yang tidak kelihatan dasarnya.

 

 

Keterangan:

*Jika Anda tahu apa yang ada dalam obat kami, maka Anda pasti enggan meminumnya.

**Kami melawan penyakit dengan racun. Kalajengking, ular, dan sebagainya, Anda sebutkan saja. Kami pakai itu semua.

By : Tri Susilawati

copas : http://kesehatan.kompasiana.com/ medis/2013/07/29/ obat-adalah-racun-580666.html



Back to article list